Mengapa Kita Sulit Berhenti Membandingkan Diri?
Pernahkah Anda membuka media sosial hanya untuk melihat-lihat sebentar, tetapi beberapa menit kemudian merasa hidup sendiri tertinggal?
Seseorang mengunggah foto wisuda.
Orang lain mendapatkan pekerjaan baru.
Ada yang membagikan perjalanan liburan.
Teman lama terlihat sukses membangun bisnis.
Sementara kita masih berada di tempat yang sama.
Tidak jarang muncul pertanyaan dalam hati:
“Kenapa hidup orang lain terlihat lebih baik daripada hidup saya?”
Perasaan seperti ini sebenarnya sangat manusiawi. Media sosial membuat kita dapat melihat kehidupan banyak orang hanya melalui layar ponsel. Masalahnya, apa yang kita lihat di layar belum tentu menggambarkan keseluruhan kehidupan seseorang.
Kita sering membandingkan kehidupan nyata kita dengan potongan kehidupan orang lain yang sudah mereka pilih untuk ditampilkan.
Di sinilah masalahnya.
Media Sosial Membuat Kita Melihat Kehidupan dari Sudut yang Terpilih
Ketika seseorang mengunggah foto atau cerita di media sosial, biasanya mereka memilih momen tertentu.
Mereka mungkin membagikan:
- pencapaian;
- perjalanan;
- pekerjaan baru;
- hubungan yang menyenangkan;
- makanan;
- keberhasilan;
- kegiatan bersama keluarga;
- atau momen yang membahagiakan.
Namun, tidak semua orang mengunggah ketika sedang gagal, bingung, kehilangan pekerjaan, mengalami konflik, atau merasa tidak tahu harus melakukan apa.
Akibatnya, kita bisa mendapatkan gambaran yang tidak lengkap.
Kita melihat:
“Dia berhasil.”
Tetapi tidak melihat:
“Berapa kali dia gagal sebelum berhasil?”
Kita melihat:
“Dia sudah punya pekerjaan.”
Tetapi tidak melihat:
“Berapa banyak lamaran yang pernah dia kirim sebelumnya?”
Kita melihat:
“Hidupnya bahagia.”
Tetapi tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi ketika kamera dimatikan.
Karena itu, membandingkan kehidupan kita dengan unggahan orang lain sering kali merupakan perbandingan yang tidak seimbang.
Mengapa Kita Senang Membandingkan Diri?
Ada beberapa alasan mengapa manusia mudah membandingkan dirinya dengan orang lain.
1. Kita Ingin Mengetahui Apakah Kita “Cukup”
Manusia memiliki kecenderungan untuk menilai dirinya melalui lingkungan sekitar.
Kita melihat pencapaian orang lain untuk mengetahui posisi diri sendiri.
Ketika teman mendapatkan pekerjaan, kita mulai bertanya:
“Kapan saya mendapatkan pekerjaan?”
Ketika orang lain menikah:
“Kapan saya?”
Ketika seseorang membeli rumah:
“Kapan saya bisa seperti itu?”
Pertanyaan tersebut sebenarnya tidak selalu buruk.
Perbandingan dapat menjadi bahan evaluasi apabila digunakan untuk mengetahui apa yang perlu kita kembangkan.
Masalah muncul ketika perbandingan berubah menjadi penilaian bahwa diri kita tidak berharga hanya karena belum mencapai hal yang sama.
2. Algoritma Membuat Kita Terus Melihat Hal yang Menarik Perhatian
Media sosial dirancang untuk membuat pengguna terus menemukan konten yang menarik.
Ketika kita sering melihat konten tertentu, kita dapat semakin banyak menemukan konten dengan tema yang sama.
Misalnya, seseorang yang sering melihat konten tentang kesuksesan karier mungkin akan terus menemukan konten tentang:
- pekerjaan;
- gaji;
- bisnis;
- produktivitas;
- kesuksesan;
- gaya hidup.
Akhirnya muncul kesan:
“Semua orang sudah sukses, hanya saya yang belum.”
Padahal yang kita lihat hanyalah bagian tertentu dari kehidupan sosial yang muncul di layar.
3. Kita Sering Membandingkan Bagian Terburuk Diri Sendiri dengan Bagian Terbaik Orang Lain
Ini merupakan salah satu bentuk perbandingan yang paling melelahkan.
Kita mengetahui seluruh masalah dalam hidup sendiri.
Kita tahu ketika sedang gagal.
Kita tahu ketika uang sedang terbatas.
Kita tahu ketika pekerjaan belum sesuai harapan.
Kita tahu kekurangan diri sendiri.
Sementara ketika melihat orang lain, kita hanya melihat bagian yang mereka tampilkan.
Akibatnya:
Kita mengetahui 100% masalah diri sendiri, tetapi mungkin hanya melihat 10% kehidupan orang lain.
Jika kedua hal tersebut dibandingkan, tentu hasilnya tidak adil.
4. Standar Kesuksesan Semakin Mudah Terlihat
Dulu, kita mungkin hanya mengetahui keberhasilan orang-orang yang berada di sekitar kita.
Sekarang, melalui media sosial, kita dapat melihat ribuan orang yang sukses dalam berbagai bidang.
Ada yang sukses menjadi pengusaha.
Ada yang sukses sebagai pekerja profesional.
Ada yang menjadi kreator.
Ada yang berhasil mendapatkan beasiswa.
Ada yang bisa bekerja dari mana saja.
Ada yang memiliki rumah dan kendaraan.
Semua terlihat dalam satu layar.
Akibatnya, standar kehidupan yang kita lihat menjadi semakin tinggi.
Padahal setiap orang mempunyai:
- kondisi keluarga yang berbeda;
- kesempatan yang berbeda;
- kemampuan yang berbeda;
- lingkungan yang berbeda;
- pengalaman yang berbeda;
- dan perjalanan hidup yang berbeda.
Dampak Membandingkan Diri Secara Berlebihan
Membandingkan diri sesekali adalah hal yang wajar. Namun, jika dilakukan terus-menerus dan membuat kita merasa rendah diri, dampaknya dapat menjadi tidak baik.
1. Kita Sulit Menghargai Pencapaian Sendiri
Ketika terlalu fokus pada pencapaian orang lain, kita dapat melupakan kemajuan yang sudah dilakukan sendiri.
Mungkin dulu kita belum memiliki pekerjaan, sekarang sudah bekerja.
Mungkin dulu tidak berani berbicara di depan orang lain, sekarang sudah lebih percaya diri.
Mungkin dulu belum memiliki keterampilan tertentu, sekarang sudah mulai mempelajarinya.
Kemajuan kecil tetap merupakan kemajuan.
2. Kita Merasa Selalu Tertinggal
Ada kalanya seseorang sudah mencapai banyak hal, tetapi tetap merasa gagal karena melihat orang lain yang pencapaiannya lebih tinggi.
Masalahnya bukan selalu pada kehidupan yang dimiliki.
Masalahnya bisa berada pada standar pembanding yang tidak pernah selesai.
Hari ini membandingkan pekerjaan.
Besok membandingkan penghasilan.
Kemudian membandingkan rumah.
Setelah itu membandingkan pasangan.
Jika terus dilakukan, kita akan selalu menemukan seseorang yang terlihat lebih unggul.
3. Kita Bisa Kehilangan Fokus
Ketika terlalu sibuk memperhatikan perjalanan orang lain, kita bisa lupa bertanya:
“Sebenarnya kehidupan seperti apa yang saya inginkan?”
Tidak semua kesuksesan orang lain harus menjadi tujuan kita.
Seseorang mungkin bahagia dengan menjadi pengusaha.
Orang lain mungkin justru nyaman dengan pekerjaan kantoran.
Ada yang ingin tinggal di kota besar.
Ada pula yang ingin hidup sederhana di daerah asalnya.
Tidak ada satu ukuran kesuksesan yang berlaku untuk semua orang.
Bagaimana Cara Berhenti Membandingkan Hidup dengan Orang Lain?
Berhenti membandingkan diri bukan berarti harus menghapus semua media sosial.
Yang lebih penting adalah mengubah cara kita menggunakannya.
1. Ingat Bahwa Media Sosial Bukan Kehidupan Utuh
Setiap kali melihat seseorang terlihat sangat sukses atau bahagia, ingat satu hal:
Yang kita lihat adalah apa yang dipilih untuk ditampilkan.
Jangan langsung menyimpulkan bahwa kehidupan mereka sempurna.
Begitu juga jangan menyimpulkan bahwa kehidupan kita buruk hanya karena terlihat biasa saja.
2. Gunakan Orang Lain sebagai Inspirasi, Bukan Ukuran Harga Diri
Melihat keberhasilan orang lain sebenarnya dapat memberikan inspirasi.
Misalnya Anda melihat seseorang berhasil mendapatkan pekerjaan remote.
Daripada berpikir:
“Kenapa saya belum bisa?”
ubah menjadi:
“Apa yang bisa saya pelajari dari perjalanan orang tersebut?”
Dengan cara ini, perbandingan berubah menjadi pembelajaran.
3. Buat Ukuran Kesuksesan Sendiri
Coba tanyakan kepada diri sendiri:
Apa yang sebenarnya ingin saya capai?
Bukan apa yang sedang populer.
Bukan apa yang membuat orang lain kagum.
Bukan apa yang sering muncul di media sosial.
Tetapi apa yang benar-benar penting bagi kehidupan Anda.
Kesuksesan bisa berarti memiliki pekerjaan yang stabil.
Bisa berarti mempunyai waktu bersama keluarga.
Bisa berarti mampu membiayai kebutuhan sendiri.
Bisa juga berarti memiliki kehidupan yang sederhana tetapi tenang.
4. Kurangi Mengikuti Akun yang Membuat Anda Terus Merasa Tidak Cukup
Perhatikan perasaan Anda setelah menggunakan media sosial.
Jika setiap kali melihat akun tertentu Anda merasa:
- rendah diri;
- iri;
- cemas;
- gagal;
- atau merasa hidup tidak berarti,
tidak ada salahnya mengurangi paparan terhadap konten tersebut.
Anda bisa menggunakan fitur seperti mute, unfollow, atau membatasi waktu penggunaan.
Tujuannya bukan membenci orang lain.
Tujuannya adalah menjaga ruang mental agar tetap sehat.
5. Catat Kemajuan Diri Sendiri
Daripada setiap hari melihat pencapaian orang lain, sesekali lihat perjalanan diri sendiri.
Coba tuliskan:
Apa yang sudah saya pelajari tahun ini?
Apa yang dulu tidak bisa saya lakukan tetapi sekarang bisa?
Masalah apa yang berhasil saya lewati?
Apa yang sedang saya perjuangkan sekarang?
Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu kita menyadari bahwa kehidupan kita sebenarnya juga mengalami perkembangan.
Hanya saja, kita sering terlalu sibuk melihat perjalanan orang lain sampai lupa melihat perjalanan sendiri.
6. Jangan Menentukan Nilai Diri Berdasarkan Kecepatan
Ada orang yang mendapatkan pekerjaan di usia muda.
Ada yang baru menemukan pekerjaan yang cocok setelah beberapa kali mencoba.
Ada yang membangun bisnis sejak muda.
Ada yang baru memulai ketika usianya lebih matang.
Ada yang berhasil lebih cepat.
Ada yang membutuhkan waktu lebih lama.
Cepat bukan selalu berarti lebih baik.
Setiap orang mempunyai titik awal, kondisi, dan perjalanan yang berbeda.
Perbandingan yang Lebih Sehat
Mungkin kita tidak bisa sepenuhnya berhenti membandingkan diri dengan orang lain.
Namun, kita dapat mengubah objek perbandingannya.
Daripada bertanya:
“Apakah saya lebih sukses daripada dia?”
Coba bertanya:
“Apakah saya lebih berkembang daripada diri saya yang dulu?”
Pertanyaan kedua jauh lebih berguna.
Karena lawan yang paling relevan dalam perjalanan hidup bukan selalu orang lain.
Kadang-kadang, yang perlu kita kalahkan adalah:
rasa takut, kebiasaan buruk, keraguan, dan versi diri sendiri yang tidak mau berkembang.
Media Sosial Seharusnya Menjadi Alat, Bukan Pengukur Kehidupan
Media sosial sebenarnya bukan sesuatu yang harus dijauhi.
Media sosial dapat digunakan untuk:
- belajar;
- membangun jaringan;
- mencari pekerjaan;
- mempromosikan usaha;
- mendapatkan informasi;
- berbagi pengalaman;
- dan menemukan inspirasi.
Masalahnya muncul ketika media sosial mulai digunakan sebagai alat untuk menentukan apakah kehidupan kita sudah cukup baik atau belum.
Nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh jumlah pengikut.
Kebahagiaan tidak selalu terlihat dari foto.
Kesuksesan tidak selalu diumumkan melalui status.
Dan kehidupan yang sederhana bukan berarti kehidupan yang gagal.
Penutup
Kita sering membandingkan hidup dengan orang lain karena manusia memang memiliki kecenderungan untuk melihat dirinya melalui lingkungan sekitar. Media sosial kemudian membuat proses tersebut menjadi jauh lebih mudah karena kehidupan banyak orang dapat kita lihat hanya melalui layar.
Namun, kita perlu mengingat bahwa media sosial hanya menunjukkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang.
Jangan membandingkan seluruh kehidupan kita dengan beberapa foto terbaik orang lain.
Gunakan media sosial untuk belajar dan mendapatkan inspirasi, tetapi jangan biarkan media sosial menentukan nilai diri kita.
Karena pada akhirnya, kehidupan bukan perlombaan tentang siapa yang paling cepat sampai.
Yang lebih penting adalah mengetahui ke mana kita ingin berjalan, mengapa kita memilih jalan tersebut, dan apakah kita terus berkembang sepanjang perjalanan.
Tidak semua kehidupan harus terlihat hebat di layar untuk menjadi berarti di dunia nyata.
FAQ
Mengapa kita sering membandingkan diri dengan orang lain di media sosial?
Karena media sosial membuat kehidupan orang lain terlihat sangat dekat dan mudah dibandingkan. Kita juga cenderung melihat pencapaian orang lain tanpa mengetahui keseluruhan perjalanan mereka.
Apakah membandingkan diri dengan orang lain selalu buruk?
Tidak selalu. Perbandingan dapat menjadi sumber motivasi dan pembelajaran jika digunakan untuk mengevaluasi diri. Perbandingan menjadi masalah ketika membuat seseorang terus merasa tidak berharga atau gagal.
Bagaimana cara mengurangi kebiasaan membandingkan diri?
Sadari bahwa media sosial hanya menampilkan sebagian kehidupan seseorang, kurangi konten yang membuat Anda tertekan, tetapkan ukuran kesuksesan sendiri, dan fokus pada perkembangan diri.
Apakah harus berhenti menggunakan media sosial?
Tidak harus. Yang penting adalah menggunakan media sosial secara sadar dan tidak menjadikannya sebagai ukuran nilai diri atau keberhasilan hidup.
No comments:
Post a Comment